Tag Archives: pekerjaan

Tumpukan Pekerjaan, Segudang Pengangguran

“Lebih baik pusing kebanyakan kerjaan dari pada pusing tidak ada kerjaan.”

Begitulah ungkapan teman-teman saya para dosen ITB yang sibuk-sibuk. Jika saya pikir-pikir memang benar juga.

Saya termasuk orang yang seringnya tidak pusing. Pusing karena kebanyakan kerjaan, saya jarang mengalaminya. Pusing karena tidak ada kerjaan, saya malah tidak pernah yang satu ini.

Tetapi akhir-akhir ini, saya mulai didatangi pekerjaan yang bertumpuk – segudang. Akankah membuat saya pusing?

Semoga membuat saya lebih kuat…!

Biasanya saya menyusun prioritas pekerjaan menurut pendekatan Stephen Covey ( The 7 Habits). Covey membagi perkerjaan menjadi tingkat penting tidak penting dan urgen tidak urgen. Pendekatan Covey ini menurut saya sangat efektif.

Bagaimana pun tidak mudah untuk tetap konsisten kepada prinsip. Banyak godaan di sana-sini.

Mari kita buang hal-hal yang tidak penting. Kita akan fokus saja kepada hal-hal yang penting saja. Kita menjadi memiliki hal Penting dan Urgen (kuadran I), serta hal Penting tapi Tidak Urgen (kuadran II).

Mana yang harus kita dahulukan? Kuadran I (Penting, Urgen) atau kuadran II (Penting, Tidak Urgen)?

Tentu kuadran I. Sebagai orang yang bertanggung jawab tentu saja kita tidak dapat meninggalkan pekerjaan yang penting dan urgen. Bukankah begitu?

Tetapi akibatnya yang berat. Karena banyak tumpukan pekerjaan yang penting dan semuanya urgen maka kita jadi dikejar-kejar pekerjaan. Inilah yang membuat banyak orang menjadi pusing karena kebanyakan pekerjaan.

Bila kuadran II (Penting, tidak Urgen) yang menjadi prioritas akan berbeda. Kita memang berhadapan dengan berbagai macam hal penting. Meski penting, tetapi tidak urgen, tidak mendesak. Sehingga kita memiliki cukup waktu untuk mengatur diri.

Banyak pekerjaan tidak selalu membuat pusing. Terutama bila pekerjaan tersebut adalah pekerjaan kuadran II (Penting, Tidak Urgen).

Saat ini saya sedang dihadapkan pada bertumpuk-tumpuk pekerjaan yang penting. Di antara pekerjaan itu tentu ada yang kuadran I dan – untungnya – lebih banyak kuadran II. Saya akan tetap berusaha memanage agar porsi kuadran II (Penting, Tidak Urgen) lebih dominan.

Mengapa tetap ada pengangguran?
Padahal banyak orang yang malah kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan?
Bahkan banyak pekerjaan yang belum terselesaikan?

Belajar adalah pekerjaan kuadran II (Penting, Tidak Urgen). Tentu tidak akan ada pengangguran bila setiap orang bersedia mengisi waktunya untuk belajar. Setiap ada waktu luang – menganggur – gunakan waktu tersebut untuk belajar. Pasti kita tidak pernah mengaggur.

Tidak semudah itu untuk belajar. Karena belajar adalah kuadran II maka tidak urgen alias tidak mendesak. Karena tidak terdesak banyak orang malas melakukannkya.

Bagaimana dengan belajar matematika kreatif APIQ?

Penting? Sangat penting!
Urgen? Mendesak? Mungkin tidak urgen!

Justru karena belajar matematika kreatif APIQ itu penting dan tidak urgen, maka harus menjadi prioritas utama kita.

Bagaimana menurut Anda?

Salam hangat…
(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Iklan